Selasa, 09 April 2013

short story


Hujan sore ini sangat deras membasahi butiran-butiran debu yang terhampar panas di luar sana, membawa basahnya harapan dan cita-cita yang menjihadkan tholabul ilmi para pejuang generasi islam. Apalagi ketika harus jauh dari orang tua yang kita sayangi. Meneruskan perjuangan para khalifah masa lampau untuk tetap mengibarkan bendera islam di semua penjuru dunia.
            Pondok Pesantren Nurul Hikam, yang berdiri begitu kokoh dengan bangunan tuanya yang tetap awet. Di tengah kota Yogyakarta ini.
            “Ukhti…. Kamu ada buku gak…?” teriak seorang adri luar dengan menjinjingkan sarungnya. Seraya ku hentikan muto’laah ku.
            “buku apa to run kamu itu kok tiap hari cari buku, buku apa to ..?”
            “ya apa gitu referensi artikel nih tema nya fashion pliss kejar tayang nih…” katanya dengan nada merenggek.
            “Koran sama majalah bekas mau, gak punya buku tentang fashion aku…”
            “ mana ndokk..” katanya
            “bawah almariku…” kata ku sambil ku buka lagi kitab al fiyah ku yang harus ku hafalkan sebanyak 1000 nadhom dalam waktu 2 tahun. Yah begitulah kehidupan di pesantren penuh canda tawa, susah sedih, dan juga penuh dengan perjuangan menuntut ilmu.
            Hari ini hari jumat waktunya kegiatan ekstrakulikuler pramuka bagi siswa Madrasah Aliyah. Kompleks Robiah al adawiyah yang di huni para pengurus dewan kepramukaan dan dewan keorganisasian pondok begitu riuh kesan kemari untuk mempersiapkan diri ada yang pinjam baju, ada yang pinjam kaos kaku parahnya lagi ada yang pinjam jarum untuk mengkaitkan jilbab mereka. Masyaallah memang serba serbi pesantren seperti ini.
            “ Ukthi Riya…!!!!!” teriak seseorang
            “na’am .. li madza ?” sahut ku dari kamar.
            “sudah siap…?” Tanya gadis manis di depan pintu,
            “ sudah Ukhti firoh… ayo ke lapangan sudah jam 8 nih yuk..” aku dan firoh pun berjalan ke lapangan. Di sepanjang jalan banyak yang menyapa ku dan mbak firoh. Memang kalau mbak firoh ku tidak terlalu terheran, dia pinter putri kiai segala.
            “perhatian seluruhnya pimpinan saya ambil alih.. siappppppp grakkkkkk ….. dua kali istirahat di tempat grakk!!!”
            “oke hari ini materinya pengembangan tali temali setiap sangga harus bikin pioneering bisa kumpul per sangga dan nanty di ambil nilainya bisa di mulai dari sekarang”
            Semua berhambur kesana kemari. Ku periksa segala administrasi tentang Dewan Ambalan ku. Meskipun kami di lingkup pesantrean tapi dewan ambalan kami tidak kalah asyiknya dengan dewan ambalan yang berasal dari SMA favorit lain. Selain itu kami juga sering mendapatkan juara.
            “ riya ada dewan ambalan putra yang mau ketemu sama kamu katanya hari ini seharussnya latihannya nak putra “
            “kok bisa ini kan jumat kedua “
            “jelasin sendiri deh..”
            Segera ku langkahkan kaki dengan cepat.
            “ada apa kang ..?”
            “mbak kamu ki gimana to wong waktunya anak putra malah di buat anak putri, kamu ie bisa tanggung jawab tidak to..”
            “ loh kang, kan kemarin udah anak putra to masa tidak mau gentian to kang “
            “ya tapi kan kemaren itu pelantikan bukan perlatihan mbak, kemarin sudah saya kasih tau mas hamdan kalau waktunya anak putrid minggu ke 3 dn ke 4”
            “ ya sudah terlanjur mau di apakan,”
            “ya seharusnya kamu sebagai ketua harus bisa tanggung jawab, jangan hanya cupu di pondok, gak mau cari informasi ketua macam apa seperti ini, baru kali ini dewan ambalan putri seperti ini”
            “ech kang di jaga ya omongannya, kemaren saya sudah sama Tanya mas hamdan dan katanya boleh, “
            “tapi kamu tidak tanya saya kan mbak, seperti itu kamu bilang sudah pertanggung jawab”
            “salah kamu juga kalau buat aagenda gak bilang Pembina, saya juga punya garis komando di sini kang bukan hanya bergantung pada sampean”
            “hehh… ada apaa ini..?” Tanya seorang dari luar yang ternyata adalah mas hamdan sang Pembina satuan gudep kami
            “ mas ini kok cah putri latihan sih padahal kan waktunya nak putra”
            “iya saya tau, sebenarnya saya kemaren mau menyampaikan sama kamu lupa lho riya jadi ya… mungkin anak putra bisa minggu depan saja tidak apa-apa yang rel..”
            “ tolong kalau memang seperti itu klarifikasi dulu sama pembinanya jangan langsung marah-marah di sini malu di lihat orang “ kata ku sambil berlalu tanpa menghiraukan mereka.
            “heh perempuan tidak tau sopan, main pergi gitu aja !” kata naurel. Ku tidak menghiraukannya. Mata ku pedih melihat itu semua, laki-laki yang tidak tau sopan main labrak begitu saja memangnya aku atau kamu yang tidak tau sopan huh menyebalkan…….!
# # #
            “ Ukhti riya…” teriak seorag dari belakangku seusai bandunagn kitab kuning yaitu Ihya’ Ulumudin.
            “Ukhti kamu kie kok cantik men to pinter pisan aku di ajari to ukhti… pengen sih rasanya kayak Ukhti..’
            “ya Ulhti seharusnya bisa lebih menghargai waktu, pergunakan waktu dengan baik dengan hal-hal positif gitu.. ech ukhti najwa duduk di situ yuk kayaknya nyaman ..” ajak ku
            “iyha ukhti”
            Aku dan Najwa menuju sebuah bangku bamboo di depan jauh dari ndalem Romo kiai. Terlihat Ndalem terlalu kosong dan sepi hanya ada Kiai, Ibu, dan putra semata wayangnya Gus Naurel orang yang berhadapan dengan ku Jumat lalu. Gus paling manja sedunia dan paling cerewet kalau seukuran seorang laki-laki.
            “Najwa bagaimana sekolah kamu?”
            “ya mbak ya seperti itu, sering meninggalkan pelajaran mbak aku belum bisa memanagemen waktu ku”
            “kenapa? Jangan bilang kalau gara-gara organisasi kamu seperti ini, tak bilangin ya adex ku sayang kamu itu pemimpin kepremukaan penggalang di sini, kalau kamu ahli dalam pramuka tapi pelajaran kamu jelek apa kata temen-temen kamu nanti, apa kata adek – adek kamu nanti, coba bayangin kalau da kabar Ketua Dewan Galang PonPes Al Hikam Nilai Rapotnya Jelek, yang malu siapa… organisasiitu seharussnya bikin kita lebih bisa untuk mengevaluasi diri kita agar lebih baik…, you can change everything with your self my dear…”
            “makasih mbak nasihatnya aku akan berusaha lebih baik lagi, “ kata dia sambil tersenyum
            “ mbak ini apa ya…?” kata najwa menyodorkan sebuah berkas di sampingnya. Ku buka berkas itu yang ternyata beberapa soal pengetahuan.
            “mungkin ini milik mbak-mbaknya kali ya dek”
            “iya mbak, mbak bawa saja soal ini”
            Aku pun mengangguk, ku bawa soal-soal itu ke kompleks Ulyatul munawwaroh yang tepat di sana mbak-mbaknya yang sudah kuliah berada. Soal itu adalah kumpulan soal pengetahuan alam, social, bahkan mulai dari nahwu, shorof, dan beberapa ilmu lainnya. Dan tidak ada yang punya soal itu. Akhirnya ku umumkan di speaker pondok. Setelah ku tunggu beberapa waktu ternyata tidak ada yang ke kantor pondok.
            “dex riya sudah malam mending kembali ke kamar dan nanti kalau ada yang kesini tak kasih tau kalau soalnya di kamu” kata mbak dewi ketua pondok putrid.
            “iya mbak… sukron ya”
            Ku berjalan menyusuri berapa tapak jalan pondok karena memang kamar pengurus alias kantor pondok sedikit jauh dengan kompleks kamar ku. Malam ini begitu sepi kecuali kelas yang biasa di pakai anak-anak putra latihan di ujung sana ku temui sesosok laki-laki yang berjalan mendekat ke arah ku.
            “hey Ukhti ngapain kamu malam-malam di sini” teriaknya dari kejauhan. Ku langsung membalikan badan.
            “He he he Naurel….” Kataku merenges
            “NahRiya… ngapain kamu malam-malam di sini,?”
            “habis dari kamar pengurus, kamu sendiri?”
            “bukan urusan kamu ..”
            “ya sudah.. “
            “ech itu, ini berkas….?” Katanya sambil merebut berkas di dekapan ku dan membukanya..
            “MasyaAllah ya.. ini berkas yang tak cari dari tadi…..”
            “o.. itu punya kamu ya sudah lah kalau gitu gak repot nyari pemiliknya dah malam takut fitnah ku pergi Good Night Gus Naurel “
            “Sukron Lo Mbak Riya yang Pualengg jelek”
            “Na’am Gur Naurel sing pualenggg manja”
Kata ku sambil berlari Karena pasti ketika aku dan naurel bertengkar dia  melempariku batu.
            Aku kenal Naurel sejak aku dan dia sama-sama menjadi ketua dewan penggalang. Kami sering bertengkar gara-gara masalah organisasi tapi kadang kami akur karena guyonan ya memang tidak seharusnya aku seperti ini, mungkin aku harus bisa lah jaga diri lebih taqdim sama gus ku sendiri tapi ya gusnya sama ku nglunjak kok.
# # #
            Seusai sholat Dhuha ku bereskan semua buku ku untuk sekolah, ku masukkan dalam tas. Ada sesuatu yang jatuh di lantai
            “apa ini nilai ulanganku kah..?” perlahan ku buka kertas putih itu.
NahRiya.. yang selalu terngiang di hati ku yang selalu sulit ku melupakanmu.. ajari aku ber istighfar untuk tetap menjaga kodratku sebagai laki-laki yang menjaga pandanganku terhadap perempuan….
                                    EmFie
 












            “Allahu Akbar siapa ini..pasti ada yang iseng.. uh sebel” omel ku
            “ ada apa to yak ok ngomel-ngomel”
            “ada surat nyasar mbak….. “
            “penggemar mu…”
            “ihhh gak lahhhh” kata ku sambil keluar menuju madrasah para penjihad islam pun sudah bersiap-siap untu menutut ilmu.
            Terlihat semua nampak serius untuk mengikuti pelajaran, hanya beberapa virus yang menyerang teman-teman yang tidak kuat imannya yaitu virus mengantuk bahkan sampek ada yang tidur dan parahnya lagi ada yag ngiler. Idihhh jorok.
            Bel istiraht berbunyi…
            “NahRiya…..” teriak seseorang dari luar kelasku”
            “ada apa ?” kata ku keluar kelas.
            “ ini ada titipan tadi nih..”
            “ makasih tapi dari siapa?”
            “saya tidak tahu “ kata mbak firoh.
            Ku buka bungkusan itu, bungkusan berwarna merah jambu. Dan ternyata berisikan sebuah buku dengan berwarnakan hitam mirip buku harian, ku buka buku itu ku temukan photo di dalamnya .. photo ku
            “Allah apalagi ini?” batin ku
            Ku baca sajak demi sajak tertulis sangat rapi sekali pengalaman yang tertulis di dalamnya ku salami dengan baik, sangat menawan dan hingga mataku terbelalak ketika ku temui kata-kata
            “sungguh aku mencintainya cinta tulus dari dalam hati ku cinta dari sang penguasa alam cinta yang timbul sendirinya tanpa ada nafsu apapun kenapa namamu NahRiya Nur Asyifa”
         “Ya Allah apalagi ini, aku belum ingin ini aku tidak mau terjatuh pada nafsu ini..  Ya Rabb..” air mata ku menetes dan tubuh ku terhempas ke lantai tersa lemas tubuh ini membaca itu.
            “kamu kenapa ndokk…?” kata mbak firoh mendekatiku. Dia mengambil harian itu dari tangan ku. Dia baca.
            “mbak… aku tidak tahu pengirimnya “
            “lihat ndok…” kata mbak firoh menunjuk pada suatu nama yang tertera di harian itu paling belakang
            Muhammad Naurel Mutawaffie
            “Allahu Akbar mbak Naurel Gus ku kenapa harus aku mbak?” Tanya ku semakin lemas
            “tidak ada yang salah tentang cinta ndok semua sama hanya kita yang salah dengan cinta, wajar kalau Gus Naurel suka sama kamu itu hukum alam kalau laki-laki mencintai wanita apalagi kalian sudah sama-sama dewasa ndok.”
            “kenapa bukan si fetty yang naksir sama naurel itu, kenapa bukan si yuli yang berkhayal nikah sama naurel itu kenapa harus aku mbak?”
            “ndok lagi pula kalau naurel suka sama kamu wajar kok ndok kamu itu pinter, manis, imut lagi.. ya saran ku kamu Tanya langsung jumat ini kan anak putra pramuka to kamu Tanya langsung saja tapi yang baik-baik ya..”
            Aku mengangguk ku usap airmata ku.
# # #
            Malam ini aku benar-benar sangat gusar. Naurell kok bisa. Ku buka jendela kamar ku terlihat bintang bersinar terang ku tangkap sosok laki-laki di depan ndalem. Ku lihat gerak-geriknya.
            “Naurel….. “ gumam ku. Kucing di sampingnya menggeliat dia sentuh bulu kucing itu seraya memberikan beberapa makanan. Dia bangkit dari duduknnya menerawang jauh keangkasa dan Uppz aku tertangkap sedang memandangnya. Dia tersenyum…..
# # #
            Jumat ini, adalah pramuka putra ku merenung merangkai kata untuk memberanikan diri berani bertanya pada Naurel.
            “ndok sampean jadi?”
            “insyaallah mbak”
            “mengke nek enten mbak-mbak e pengurus di jelas ne seadane insyaallah mbak-mbak e saget nompo” aku mengangguk.
            Dia berdiri di ujung madrasah. Huh kutarik nafas dalam. Bismillah
            “Naurel ada yang perlu ku omongkan”
            “Organisasi?”
            “Pribadi..”
            “bicaralah ,,,,,”
            “sejak kapan kamu menyukai ku? Apakah kamu  selalu mengintai ku?”
            “pertanyaan konyol Riya.. sejak dulu sebenarnya aku condong pada mu tapi hanya ku berani mengatakan ini padamu aku sangat takut akan perasaanku sendiri Riya.. “
            “kalau kamu takut kenapa kamu mengatakannya,?”
            “aku ingin kamu menungguku ketika aku nanti berjihad di jazirah arab tholabul ilmi di sana yang sudah tradisi keluarga, “
            Seraya ku memandang terhadapnya wajahnya yang teduh dan dingin.
            “Insyaallah….. “ kataku tersenyum dan meninggalkan dia,. Dia tersenyum
            Aku legaa dan bahagia tentunya untuk sekaran dan semoga yang akan dating juga.
            5 tahun kemudian…
            Hari ini remsi ku sandang gelar S1 sarjana Pendidikan Fisika. Ku lihat langit Yogyakarta yang begitu cerah secerah hati ku yang berbunga-bunga.
            “ndokk ciyehh dah jadi sarjana nih” goda mbak firohh
            “mbak juga kok”
            “rencananya kemana nih”
            “ke ndalem mbak sowan”
# # #
            “assalamualikum”
            “waalaikumsalam, Alhamdulillah Riya ,Firoh kalian kesini mari masuk” kata Bu Yai yang sangat senang sekali.
            “piye wes sarjana to?”
            “Alhamdulillah sampun buk..”
            “Alhamdulillah lalu setelah ini apa rencana kalian?”
            “kalau saya insyaallah akan membantu pesantren bu”
            “kamu Nahriya?”
            “saya belum mengerti buk”
            “loh kok begitu belum ada ancang-ancang untuk menikah?”
            “belum buk memangnya enten nopo njeh?”
            “ora opo-opo ndok, si Naurel tu seharuny sudah punya calon untuk di jadikan istri dan pandangan ku sama si Wulan”
            Deg AllahuAkbar ternyata Naurel sudah di jodohkan. Hatiku sakit aku membisu begitu mendengar itu. Membisu seribu bahasa. Hingga ku temuakan sosok yang ku cari di depan asrama putra. Dia mendekat menghampiriku.
            “apa kabar Nahriya?”
            “kenapa tidak bilang dari dulu kalau kamu di jodohkan?”
            “kamu masihkah menungguku hingga saat ini?”
            “jawab dulu pertanyaanku”
            “orangtua ku yang menginginkan bukan aku, “
            “tapi kamu akan nurutkan apa yang di katakana mereka. Iya kan Rell ?” naurel diam seribu bahasa.
            “Seharusnya kamu memberitahuku lebih dulu rel tidak seperti ini.”
            Aku sangat kecewa ku tumpahkan segala airmata keluh kesah dan segala kekesalanku di depan Naurel.

# # #
            Bis malam itu membawa ku ke kota jombang tempat kelahiran ku. Sampai di terminal aku naik angkot sampai perbatasan desa.
            Aku berjalan menyusuri desa terkatung-katung. Seperti kelerengyang begitu saja mengelinding.
            “ndok kamu sudah sampai rumah..” ku salami ibu ku yang sudah setengah baya ini. Beliau masih tampak segar bugar. Dan adikku yang juga sudah semakin dewasa. Meskipun aaku sudah tidak hidup bersama Ayahku tapi aku bangga pada keluarga ini.
            Hingga suatu hari setelah setahun aku di rumah Ibuku sempat menanyakan tentang suami.dan aku lagi-lagi tersenyum.
            “ndok kamu itu sudah saatnya menikah jangan di tunda-tunda nanti bisa jadi perawan tua atau kalau perlu ibu mencarikan jodoh untukmu”
            “jodoh akan datang sendirinya buk”
            “ibuk percaya ndokk.. tapi kita harus tawakal “
            “injehh buk secepatnya”
            Malam harinya setelah sholat istikharah, hp ku berbunyi pesan masuk tanpa ku ketahui siapa
            Apakah kamu masih menungguku bidadariku
          Apakah kamu masih ingat aku
          Dan apakah aku masih ada untuk menyinari hatimu
dan mengobati luka lama itu?

            Bukan kah kamu sudah punya penggantiku yang jauh lebih sempurna dari aku Naurell Mutawaffie.
            Pagi ini ku berencana untuk membantu tetanggaku karena mempunyai hajatan.
            “mbak Riya ada yang nyari?”
            “siapa dex?”
            “ndak tau mbak katanya dari pondok Nurul Hikam pondok mbak dulu” kata adex ku
            “siapa yang mencariku apakah aku masih ada tanggungan di pondok?” gumamku dalam hati.
            “assalamualikum Nahriya”
            “subhanallah Naurel Waalaikumsalam”
            “Apa kabar?”
            “silahkan Masuk Naurel”
            “trimakasih Apa Kabar?”
            “Baik, bagaimana kamu bisa sampai sini?”
            “ceritanya panjang mungkin butuh waktu berjam jam”
            “ceritalah..”
            “kamu dari dulu tidak berubah selalu saja memaksa, baiklah.. aku kesini untuk melamarmu seperti janji ku dulu terhadapmu”
            “Wulan..”
            “Aku tidak pernah mengenal wulan melihat wajahnya atau bahkan menjadikannya istri, dia tidak mau ku persunting aku tidak tau apa alasannya, dan itu semakin memudahkan ku untuk bisa memenuhi janjiku terhadapmu, aku yakin pasti kamu sakit hati aku tau itu tapi jujur aku cinderung tehadapmu, aku sudah mengatakannya pada Ibuku dan abi tentunya mereka setuju dan aku membawakan mahar ini untuk mu”
            “apa ini relll..?”
            “Tunas kelapa emas ku yang baru saja ku dapat kan ini, aku memilih ini karena aku melihatmu, mengenalmu, memandangimu, hanya meleati dunia kepramukaan maka izinkan aku meminang mu dengan tunas kelapa ini sebagai wujud kasih sayang terhadap orang yang selama ini menjadi tepuk pramuka di haty ku.. sandi ambalan di pikiranku dan satya dharma di jiwa ku..mau kan”
            Tak terasa ku teteskan airmata di balik kekecewaan yang sangat luar biasa ada misteri begitu indah. Ku tidak menyangka bahwa “Zamiluni Ya Rabb bi Khubbilkhoiri wa khubbi rijali ma’arrohmatika.” Engkau kabulkan.


DI UJUNG TUNAS KELAPA
Pondok Pesantren Putri Durisawo PO, 23 Maret 2013
LINDA AFKARINA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar