Hujan
sore ini sangat deras membasahi butiran-butiran debu yang terhampar panas di
luar sana, membawa basahnya harapan dan cita-cita yang menjihadkan tholabul
ilmi para pejuang generasi islam. Apalagi ketika harus jauh dari orang tua yang
kita sayangi. Meneruskan perjuangan para khalifah masa lampau untuk tetap
mengibarkan bendera islam di semua penjuru dunia.
Pondok Pesantren Nurul Hikam, yang
berdiri begitu kokoh dengan bangunan tuanya yang tetap awet. Di tengah kota
Yogyakarta ini.
“Ukhti…. Kamu ada buku gak…?” teriak
seorang adri luar dengan menjinjingkan sarungnya. Seraya ku hentikan muto’laah
ku.
“buku apa to run kamu itu kok tiap
hari cari buku, buku apa to ..?”
“ya apa gitu referensi artikel nih
tema nya fashion pliss kejar tayang nih…” katanya dengan nada merenggek.
“Koran sama majalah bekas mau, gak
punya buku tentang fashion aku…”
“ mana ndokk..” katanya
“bawah almariku…” kata ku sambil ku
buka lagi kitab al fiyah ku yang harus ku hafalkan sebanyak 1000 nadhom dalam
waktu 2 tahun. Yah begitulah kehidupan di pesantren penuh canda tawa, susah
sedih, dan juga penuh dengan perjuangan menuntut ilmu.
Hari ini hari jumat waktunya
kegiatan ekstrakulikuler pramuka bagi siswa Madrasah Aliyah. Kompleks Robiah al
adawiyah yang di huni para pengurus dewan kepramukaan dan dewan keorganisasian
pondok begitu riuh kesan kemari untuk mempersiapkan diri ada yang pinjam baju,
ada yang pinjam kaos kaku parahnya lagi ada yang pinjam jarum untuk mengkaitkan
jilbab mereka. Masyaallah memang serba serbi pesantren seperti ini.
“ Ukthi Riya…!!!!!” teriak seseorang
“na’am .. li madza ?” sahut ku dari
kamar.
“sudah siap…?” Tanya gadis manis di
depan pintu,
“ sudah Ukhti firoh… ayo ke lapangan
sudah jam 8 nih yuk..” aku dan firoh pun berjalan ke lapangan. Di sepanjang
jalan banyak yang menyapa ku dan mbak firoh. Memang kalau mbak firoh ku tidak
terlalu terheran, dia pinter putri kiai segala.
“perhatian seluruhnya pimpinan saya
ambil alih.. siappppppp grakkkkkk ….. dua kali istirahat di tempat grakk!!!”
“oke hari ini materinya pengembangan
tali temali setiap sangga harus bikin pioneering bisa kumpul per sangga dan
nanty di ambil nilainya bisa di mulai dari sekarang”
Semua berhambur kesana kemari. Ku
periksa segala administrasi tentang Dewan Ambalan ku. Meskipun kami di lingkup
pesantrean tapi dewan ambalan kami tidak kalah asyiknya dengan dewan ambalan
yang berasal dari SMA favorit lain. Selain itu kami juga sering mendapatkan
juara.
“ riya ada dewan ambalan putra yang
mau ketemu sama kamu katanya hari ini seharussnya latihannya nak putra “
“kok bisa ini kan jumat kedua “
“jelasin sendiri deh..”
Segera ku langkahkan kaki dengan
cepat.
“ada apa kang ..?”
“mbak kamu ki gimana to wong
waktunya anak putra malah di buat anak putri, kamu ie bisa tanggung jawab tidak
to..”
“ loh kang, kan kemarin udah anak
putra to masa tidak mau gentian to kang “
“ya tapi kan kemaren itu pelantikan
bukan perlatihan mbak, kemarin sudah saya kasih tau mas hamdan kalau waktunya
anak putrid minggu ke 3 dn ke 4”
“ ya sudah terlanjur mau di apakan,”
“ya seharusnya kamu sebagai ketua
harus bisa tanggung jawab, jangan hanya cupu di pondok, gak mau cari informasi
ketua macam apa seperti ini, baru kali ini dewan ambalan putri seperti ini”
“ech kang di jaga ya omongannya,
kemaren saya sudah sama Tanya mas hamdan dan katanya boleh, “
“tapi kamu tidak tanya saya kan
mbak, seperti itu kamu bilang sudah pertanggung jawab”
“salah kamu juga kalau buat aagenda
gak bilang Pembina, saya juga punya garis komando di sini kang bukan hanya
bergantung pada sampean”
“hehh… ada apaa ini..?” Tanya
seorang dari luar yang ternyata adalah mas hamdan sang Pembina satuan gudep
kami
“ mas ini kok cah putri latihan sih
padahal kan waktunya nak putra”
“iya saya tau, sebenarnya saya
kemaren mau menyampaikan sama kamu lupa lho riya jadi ya… mungkin anak putra
bisa minggu depan saja tidak apa-apa yang rel..”
“ tolong kalau memang seperti itu
klarifikasi dulu sama pembinanya jangan langsung marah-marah di sini malu di
lihat orang “ kata ku sambil berlalu tanpa menghiraukan mereka.
“heh perempuan tidak tau sopan, main
pergi gitu aja !” kata naurel. Ku tidak menghiraukannya. Mata ku pedih melihat
itu semua, laki-laki yang tidak tau sopan main labrak begitu saja memangnya aku
atau kamu yang tidak tau sopan huh menyebalkan…….!
# # #
“ Ukhti riya…” teriak seorag dari
belakangku seusai bandunagn kitab kuning yaitu Ihya’ Ulumudin.
“Ukhti kamu kie kok cantik men to
pinter pisan aku di ajari to ukhti… pengen sih rasanya kayak Ukhti..’
“ya Ulhti seharusnya bisa lebih menghargai
waktu, pergunakan waktu dengan baik dengan hal-hal positif gitu.. ech ukhti
najwa duduk di situ yuk kayaknya nyaman ..” ajak ku
“iyha ukhti”
Aku dan Najwa menuju sebuah bangku
bamboo di depan jauh dari ndalem Romo kiai. Terlihat Ndalem terlalu kosong dan
sepi hanya ada Kiai, Ibu, dan putra semata wayangnya Gus Naurel orang yang
berhadapan dengan ku Jumat lalu. Gus paling manja sedunia dan paling cerewet
kalau seukuran seorang laki-laki.
“Najwa bagaimana sekolah kamu?”
“ya mbak ya seperti itu, sering
meninggalkan pelajaran mbak aku belum bisa memanagemen waktu ku”
“kenapa? Jangan bilang kalau
gara-gara organisasi kamu seperti ini, tak bilangin ya adex ku sayang kamu itu
pemimpin kepremukaan penggalang di sini, kalau kamu ahli dalam pramuka tapi
pelajaran kamu jelek apa kata temen-temen kamu nanti, apa kata adek – adek kamu
nanti, coba bayangin kalau da kabar Ketua Dewan Galang PonPes Al Hikam Nilai
Rapotnya Jelek, yang malu siapa… organisasiitu seharussnya bikin kita lebih
bisa untuk mengevaluasi diri kita agar lebih baik…, you can change everything
with your self my dear…”
“makasih mbak nasihatnya aku akan
berusaha lebih baik lagi, “ kata dia sambil tersenyum
“ mbak ini apa ya…?” kata najwa
menyodorkan sebuah berkas di sampingnya. Ku buka berkas itu yang ternyata
beberapa soal pengetahuan.
“mungkin ini milik mbak-mbaknya kali
ya dek”
“iya mbak, mbak bawa saja soal ini”
Aku pun mengangguk, ku bawa
soal-soal itu ke kompleks Ulyatul munawwaroh yang tepat di sana mbak-mbaknya
yang sudah kuliah berada. Soal itu adalah kumpulan soal pengetahuan alam,
social, bahkan mulai dari nahwu, shorof, dan beberapa ilmu lainnya. Dan tidak
ada yang punya soal itu. Akhirnya ku umumkan di speaker pondok. Setelah ku
tunggu beberapa waktu ternyata tidak ada yang ke kantor pondok.
“dex riya sudah malam mending
kembali ke kamar dan nanti kalau ada yang kesini tak kasih tau kalau soalnya di
kamu” kata mbak dewi ketua pondok putrid.
“iya mbak… sukron ya”
Ku berjalan menyusuri berapa tapak
jalan pondok karena memang kamar pengurus alias kantor pondok sedikit jauh
dengan kompleks kamar ku. Malam ini begitu sepi kecuali kelas yang biasa di
pakai anak-anak putra latihan di ujung sana ku temui sesosok laki-laki yang
berjalan mendekat ke arah ku.
“hey Ukhti ngapain kamu malam-malam
di sini” teriaknya dari kejauhan. Ku langsung membalikan badan.
“He he he Naurel….” Kataku merenges
“NahRiya… ngapain kamu malam-malam
di sini,?”
“habis dari kamar pengurus, kamu
sendiri?”
“bukan urusan kamu ..”
“ya sudah.. “
“ech itu, ini berkas….?” Katanya
sambil merebut berkas di dekapan ku dan membukanya..
“MasyaAllah ya.. ini berkas yang tak
cari dari tadi…..”
“o.. itu punya kamu ya sudah lah
kalau gitu gak repot nyari pemiliknya dah malam takut fitnah ku pergi Good
Night Gus Naurel “
“Sukron Lo Mbak Riya yang Pualengg
jelek”
“Na’am Gur Naurel sing pualenggg
manja”
Kata ku sambil
berlari Karena pasti ketika aku dan naurel bertengkar dia melempariku batu.
Aku kenal Naurel sejak aku dan dia
sama-sama menjadi ketua dewan penggalang. Kami sering bertengkar gara-gara
masalah organisasi tapi kadang kami akur karena guyonan ya memang tidak
seharusnya aku seperti ini, mungkin aku harus bisa lah jaga diri lebih taqdim
sama gus ku sendiri tapi ya gusnya sama ku nglunjak kok.
# # #
Seusai sholat Dhuha ku bereskan
semua buku ku untuk sekolah, ku masukkan dalam tas. Ada sesuatu yang jatuh di
lantai
“apa ini nilai ulanganku kah..?”
perlahan ku buka kertas putih itu.
|
NahRiya.. yang selalu terngiang di hati ku yang selalu
sulit ku melupakanmu.. ajari aku ber istighfar untuk tetap menjaga kodratku
sebagai laki-laki yang menjaga pandanganku terhadap perempuan….
EmFie
|
“Allahu Akbar siapa ini..pasti ada
yang iseng.. uh sebel” omel ku
“ ada apa to yak ok ngomel-ngomel”
“ada surat nyasar mbak….. “
“penggemar mu…”
“ihhh gak lahhhh” kata ku sambil
keluar menuju madrasah para penjihad islam pun sudah bersiap-siap untu menutut
ilmu.
Terlihat semua nampak serius untuk
mengikuti pelajaran, hanya beberapa virus yang menyerang teman-teman yang tidak
kuat imannya yaitu virus mengantuk bahkan sampek ada yang tidur dan parahnya
lagi ada yag ngiler. Idihhh jorok.
Bel istiraht berbunyi…
“NahRiya…..” teriak seseorang dari
luar kelasku”
“ada apa ?” kata ku keluar kelas.
“ ini ada titipan tadi nih..”
“ makasih tapi dari siapa?”
“saya tidak tahu “ kata mbak firoh.
Ku buka bungkusan itu, bungkusan
berwarna merah jambu. Dan ternyata berisikan sebuah buku dengan berwarnakan
hitam mirip buku harian, ku buka buku itu ku temukan photo di dalamnya .. photo
ku
“Allah apalagi ini?” batin ku
Ku baca sajak demi sajak tertulis
sangat rapi sekali pengalaman yang tertulis di dalamnya ku salami dengan baik,
sangat menawan dan hingga mataku terbelalak ketika ku temui kata-kata
“sungguh
aku mencintainya cinta tulus dari dalam hati ku cinta dari sang penguasa alam
cinta yang timbul sendirinya tanpa ada nafsu apapun kenapa namamu NahRiya Nur
Asyifa”
“Ya Allah
apalagi ini, aku belum ingin ini aku tidak mau terjatuh pada nafsu ini.. Ya Rabb..” air mata ku menetes dan tubuh ku
terhempas ke lantai tersa lemas tubuh ini membaca itu.
“kamu kenapa ndokk…?” kata mbak
firoh mendekatiku. Dia mengambil harian itu dari tangan ku. Dia baca.
“mbak… aku tidak tahu pengirimnya “
“lihat ndok…” kata mbak firoh
menunjuk pada suatu nama yang tertera di harian itu paling belakang
Muhammad
Naurel Mutawaffie
“Allahu
Akbar mbak Naurel Gus ku kenapa harus aku mbak?” Tanya ku semakin lemas
“tidak ada yang salah tentang cinta
ndok semua sama hanya kita yang salah dengan cinta, wajar kalau Gus Naurel suka
sama kamu itu hukum alam kalau laki-laki mencintai wanita apalagi kalian sudah
sama-sama dewasa ndok.”
“kenapa bukan si fetty yang naksir
sama naurel itu, kenapa bukan si yuli yang berkhayal nikah sama naurel itu
kenapa harus aku mbak?”
“ndok lagi pula kalau naurel suka
sama kamu wajar kok ndok kamu itu pinter, manis, imut lagi.. ya saran ku kamu
Tanya langsung jumat ini kan anak putra pramuka to kamu Tanya langsung saja
tapi yang baik-baik ya..”
Aku mengangguk ku usap airmata ku.
# # #
Malam ini aku benar-benar sangat
gusar. Naurell kok bisa. Ku buka jendela kamar ku terlihat bintang bersinar
terang ku tangkap sosok laki-laki di depan ndalem. Ku lihat gerak-geriknya.
“Naurel….. “ gumam ku. Kucing di
sampingnya menggeliat dia sentuh bulu kucing itu seraya memberikan beberapa
makanan. Dia bangkit dari duduknnya menerawang jauh keangkasa dan Uppz aku
tertangkap sedang memandangnya. Dia tersenyum…..
# # #
Jumat ini, adalah pramuka putra ku
merenung merangkai kata untuk memberanikan diri berani bertanya pada Naurel.
“ndok sampean jadi?”
“insyaallah mbak”
“mengke nek enten mbak-mbak e
pengurus di jelas ne seadane insyaallah mbak-mbak e saget nompo” aku
mengangguk.
Dia berdiri di ujung madrasah. Huh
kutarik nafas dalam. Bismillah
“Naurel ada yang perlu ku omongkan”
“Organisasi?”
“Pribadi..”
“bicaralah ,,,,,”
“sejak kapan kamu menyukai ku?
Apakah kamu selalu mengintai ku?”
“pertanyaan konyol Riya.. sejak dulu
sebenarnya aku condong pada mu tapi hanya ku berani mengatakan ini padamu aku
sangat takut akan perasaanku sendiri Riya.. “
“kalau kamu takut kenapa kamu
mengatakannya,?”
“aku ingin kamu menungguku ketika
aku nanti berjihad di jazirah arab tholabul ilmi di sana yang sudah tradisi
keluarga, “
Seraya ku memandang terhadapnya
wajahnya yang teduh dan dingin.
“Insyaallah….. “ kataku tersenyum
dan meninggalkan dia,. Dia tersenyum
Aku legaa dan bahagia tentunya untuk
sekaran dan semoga yang akan dating juga.
5 tahun
kemudian…
Hari ini remsi ku sandang gelar S1 sarjana
Pendidikan Fisika. Ku lihat langit Yogyakarta yang begitu cerah secerah hati ku
yang berbunga-bunga.
“ndokk ciyehh dah jadi sarjana nih”
goda mbak firohh
“mbak juga kok”
“rencananya kemana nih”
“ke ndalem mbak sowan”
# # #
“assalamualikum”
“waalaikumsalam, Alhamdulillah Riya
,Firoh kalian kesini mari masuk” kata Bu Yai yang sangat senang sekali.
“piye wes sarjana to?”
“Alhamdulillah sampun buk..”
“Alhamdulillah lalu setelah ini apa
rencana kalian?”
“kalau saya insyaallah akan membantu
pesantren bu”
“kamu Nahriya?”
“saya belum mengerti buk”
“loh kok begitu belum ada
ancang-ancang untuk menikah?”
“belum buk memangnya enten nopo
njeh?”
“ora opo-opo ndok, si Naurel tu
seharuny sudah punya calon untuk di jadikan istri dan pandangan ku sama si
Wulan”
Deg AllahuAkbar ternyata Naurel
sudah di jodohkan. Hatiku sakit aku membisu begitu mendengar itu. Membisu
seribu bahasa. Hingga ku temuakan sosok yang ku cari di depan asrama putra. Dia
mendekat menghampiriku.
“apa kabar Nahriya?”
“kenapa tidak bilang dari dulu kalau
kamu di jodohkan?”
“kamu masihkah menungguku hingga
saat ini?”
“jawab dulu pertanyaanku”
“orangtua ku yang menginginkan bukan
aku, “
“tapi kamu akan nurutkan apa yang di
katakana mereka. Iya kan Rell ?” naurel diam seribu bahasa.
“Seharusnya kamu memberitahuku lebih
dulu rel tidak seperti ini.”
Aku sangat kecewa ku tumpahkan
segala airmata keluh kesah dan segala kekesalanku di depan Naurel.
# # #
Bis malam itu membawa ku ke kota
jombang tempat kelahiran ku. Sampai di terminal aku naik angkot sampai
perbatasan desa.
Aku berjalan menyusuri desa
terkatung-katung. Seperti kelerengyang begitu saja mengelinding.
“ndok kamu sudah sampai rumah..” ku
salami ibu ku yang sudah setengah baya ini. Beliau masih tampak segar bugar. Dan
adikku yang juga sudah semakin dewasa. Meskipun aaku sudah tidak hidup bersama
Ayahku tapi aku bangga pada keluarga ini.
Hingga suatu hari setelah setahun
aku di rumah Ibuku sempat menanyakan tentang suami.dan aku lagi-lagi tersenyum.
“ndok kamu itu sudah saatnya menikah
jangan di tunda-tunda nanti bisa jadi perawan tua atau kalau perlu ibu
mencarikan jodoh untukmu”
“jodoh akan datang sendirinya buk”
“ibuk percaya ndokk.. tapi kita
harus tawakal “
“injehh buk secepatnya”
Malam harinya setelah sholat
istikharah, hp ku berbunyi pesan masuk tanpa ku ketahui siapa
Apakah
kamu masih menungguku bidadariku
Apakah kamu
masih ingat aku
Dan apakah
aku masih ada untuk menyinari hatimu
dan mengobati luka lama itu?
Bukan kah kamu sudah punya
penggantiku yang jauh lebih sempurna dari aku Naurell Mutawaffie.
Pagi ini ku berencana untuk membantu
tetanggaku karena mempunyai hajatan.
“mbak Riya ada yang nyari?”
“siapa dex?”
“ndak tau mbak katanya dari pondok
Nurul Hikam pondok mbak dulu” kata adex ku
“siapa yang mencariku apakah aku
masih ada tanggungan di pondok?” gumamku dalam hati.
“assalamualikum Nahriya”
“subhanallah Naurel Waalaikumsalam”
“Apa kabar?”
“silahkan Masuk Naurel”
“trimakasih Apa Kabar?”
“Baik, bagaimana kamu bisa sampai
sini?”
“ceritanya panjang mungkin butuh
waktu berjam jam”
“ceritalah..”
“kamu dari dulu tidak berubah selalu
saja memaksa, baiklah.. aku kesini untuk melamarmu seperti janji ku dulu
terhadapmu”
“Wulan..”
“Aku tidak pernah mengenal wulan
melihat wajahnya atau bahkan menjadikannya istri, dia tidak mau ku persunting
aku tidak tau apa alasannya, dan itu semakin memudahkan ku untuk bisa memenuhi
janjiku terhadapmu, aku yakin pasti kamu sakit hati aku tau itu tapi jujur aku
cinderung tehadapmu, aku sudah mengatakannya pada Ibuku dan abi tentunya mereka
setuju dan aku membawakan mahar ini untuk mu”
“apa ini relll..?”
“Tunas kelapa emas ku yang baru saja
ku dapat kan ini, aku memilih ini karena aku melihatmu, mengenalmu, memandangimu,
hanya meleati dunia kepramukaan maka izinkan aku meminang mu dengan tunas
kelapa ini sebagai wujud kasih sayang terhadap orang yang selama ini menjadi
tepuk pramuka di haty ku.. sandi ambalan di pikiranku dan satya dharma di jiwa
ku..mau kan”
Tak terasa ku teteskan airmata di
balik kekecewaan yang sangat luar biasa ada misteri begitu indah. Ku tidak
menyangka bahwa “Zamiluni Ya Rabb bi Khubbilkhoiri wa khubbi rijali
ma’arrohmatika.” Engkau kabulkan.
DI UJUNG TUNAS KELAPA
Pondok Pesantren
Putri Durisawo PO, 23 Maret 2013
LINDA
AFKARINA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar